Mitos Wau 1


Mengikut satu cerita, wau itu pada awalnya adalah permainan tanpa nama. Permainan yang dimainkan oleh kanak-kanak ini diperbuat dari daun tertentu yang diikat pada tulang belakang daun tersebut dengan tali kelopak batang pisang atau urat-urat daun nenas. Wau dimainkan di tempat yang berangin. Satu waktu, permainan tanpa nama itu putus talinya, dan anak itu pun menangis “wa,wa,wa,wa…”, maka, menurut yang empunya cerita, lahirlah perkataan “Wau”.

Mengikut asal usul yang lain, yang lebih dekat dengan mitos, ia bermula apabila Dewi Dewa Dani bersalinkan Dewa Muda. Bidan Ketujuh membuang tembuni Dewa Muda ke laut. Maka Mak si Dewa Dewa yang sedang bertapa di kayangan merasa tidak selesa duduk di kayangan, lalu dia turun ke Medan Kulum Laman Yang Rata, dan dilihatnya tembuni Dewa Muda terapung-apung di Sungai Nil. Tembuni itu dipulihkan menjadi seorang dewa yang dinamakan Awang si Jambul Lebat dan selaput tembuni Dewa Muda itulah dijadikan “rangka” Wau untuk Dewa Muda.

Untuk menyiapkan Wau itu, Mak si Dewa Dewa mengambil panau Dewa Muda untuk dijadikan bunga Wau, tangan Dewa Muda untuk sayap Wau, laras kaki Dewa Muda dijadikan tangan dan badan wau serta rambut Dewa Muda dijadikan jambul Wau. Bila Wau ini dinaikkan, maka busurnya berbunyi dua belas bahasa dan dua belas ragam. Dari bunyi busur itulah wujudnya nama “Wau”. Mengikut asal usul ini juga, wau yang tidak ada busur atau busurnya tidak berbunyi dua belas bahasa dan dua belas ragam dipanggil “layang-layang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: